Senin, 11 Desember 2017

MAKALAH  PENGANTAR ILMU PERTANIAN
“PENANGANAN PASCA PANEN DAN PENGOLAHAN PASCA PANEN”



Description: /storage/emulated/0/.polaris_temp/image1.jpeg

Oleh :
Kharis Annur                                (1704010001)
Rutri Wahidiana                           (1704010006)
Abdurrohman                               (1704010008)
Galuh Setya Aji                             (1704010010)
Risparanto Setyo Nugroho          (1704010025)
Rifky Yusuf S. M.                         (1704010030)
Syiva Fauzia Pandini                    (1704010034)
Anggar Setiawan                          (1704010041)
Tony Sugoro                                  (1704010042)
Mely Octaviana                             (1704010053)
Dandung Alan Kusuma               (1704010058)
Puput Indah Tri Wahyudi           (1704010063)



KEMENTRIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO
2017

DAFTAR ISI











I.     PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang

Kegiatan pasca panen bertujuan mempertahankan mutu produk segar agar tetap prima sampai ke tangan konsumen, menekan losses atau kehilangan karena penyusutan dan kerusakan, memperpanjang daya simpan dan meningkatkan nilai ekonomis hasil pertanian. Penanganan pasca panen dapat diartikan sebagai segala kegiatan atau pelakuan penanganan produk atau komoditas pertanian setelah panen sampai ketangan konsumen.  Penanganan pasca panen ini biasanya komoditas masih dalam bentuk bahan mentah atau disebut produk Primer, yang berarti produk hasil pertanian masih berupa hasil panen tanpa merubah dalam bentuk lain.
Tidak hanya proses panen yang baik perlu diperhatian namun penanganan pasca panen yang baik pun wajib untuk dilaksanakan. Dalam Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 73/Permentan/OT.140/7/72013 prinsip dasar penanganan pasca panen merupakan rangkaian kegiatan setelah panen yang dilakukan dalam tahapan dan waktu sesingkat mungkin untuk menghantarkan produk hortikultura dari lahan produksi ke tangan konsumen dalam keadaan segar dan baik.
Kegiatan penanganan pasca panen umumnya masih belum cukup baik dilakukan oleh petani, packing house (rumah kemasan) maupun pedagang. Saat ini, kegiatan pasca panen di tingkat petani umumnya dilakukan secara tradisional dengan alat yang sederhana. Oleh karena itu, perbaikan sistem pengelolaan tanaman secara terpadu disertai pengembangan teknologi pemanenan dan penanganan pasca panen merupakan salah satu unsur yang diperlukan untuk mencapai mutu produk yang baik.

B.  Rumusan Masalah

1.      Apakah pengertian dari penanganan pasca panen dan pengolahan pasca panen ?
2.      Prinsip penanganan pasca panen ?
3.      Apa manfaat dari penanganan dan pengolahan pasca panen?
4.      Bagaimanakah kegiatan penanganan pasca panen dan pengolahan pasca panen hasil pertanian ?

C.  Tujuan

1.    Untuk mengetahui pengertian dari penanganan pasca panen dan pengolahan pasca panen.
2.    Untuk mengetahui Prinsip penanganan pasca panen.
3.    Untuk mengetahui manfaat dari penanganan dan pengolahan pasca panen.
4.    Untuk mengetahui kegiatan penanganan pasca panen dan pengolahan pasca panen.



II.                PEMBAHASAN

A.  Pengertian penanganan pasca panen  dan pengolahan pasca panen.

Dalam bidang pertanian istilah pasca panen diartikan sebagai berbagai tindakan atau perlakuan yang diberikan pada hasil pertanian setelah panen sampai komoditas  berada di tangan konsumen. Istilah tersebut secara keilmuan lebih tepat disebut Pasca produksi (Postproduction) yang dapat dibagi dalam dua bagian atau tahapan, yaitu pasca panen (postharvest) dan pengolahan ( processing).
Penanganan pasca panen (postharvest) sering disebut juga sebagai pengolahan primer ( primary processing) merupakan istilah yang digunakan untuk semua perlakuan dari mulai panen sampai komoditas dapat dikonsumsi “segar” atau untuk persiapan pengolahan berikutnya. Umumnya perlakuan tersebut tidak mengubah bentuk penampilan atau penampakan, kedalamnya termasuk berbagai aspek dari pemasaran dan distribusi.
Penanganan pasca panen adalah kegiatan yang penting yang masuk dalam sapta usaha tani. Pentingnya penanganan pasca panen berdampak pada harga jual komoditas. Apabila penanganan pasca panennya tepat maka kualitas hasil terjaga dan harga komoditas tetap mengikuti harga pasar. Sedangkan jika kualitas menurun maka harga komoditas akan lebih rendah dari harga pasar.
Pengolahan (secondary processing) merupakan tindakan yang mengubah hasil tanaman ke kondisi lain atau bentuk lain dengan tujuan dapat tahan lebih lama (pengawetan), mencegah  perubahan yang tidak dikehendaki atau untuk penggunaan lain, ke dalamnya termasuk pengolahan pangan dan pengolahan industri.

B.  Prinsip Penanganan Pasca Panen

Prinsip dasar penanganan pasca panen yang baik adalah sebagai berikut :

1.    Mengenali sifat biologis hasil tanaman yang akan ditangani, yaitu :        

a)    Hasil pertanian yang telah dipanen masih hidup, masih melakukan respirasi, dan transpirasi, sehingga penanganan pasca panen yang dilakukan harus selalu memperhatikan hal ini.

b)   Sifat biologi setiap hasil pertanian berbeda, perlakuan pasca panen yang tepat untuk tiap komoditas akan berbeda.

c)    Bagian tanaman yang dimanfaatkan juga berbeda-beda sifatnya (daun, batang, bunga, buah, akar).

d)   Struktur dan komposisi hasil tanaman dari tiap bagian tanaman berbeda.

2.    Perubahan-perubahan yang terjadi dari bagian tanaman setelah panen, yaitu :

a)    Perubahan fisik / morfologis :

Daun – menguning Bunga – layu Batang – memanjang atau mengeras Buah matang – ranum, - “bonyok” Buah muda – jagung manis – biji keriput mentimun – keriput atau menguning polong – alot, menguning Umbi dan ubi – bertunas / berakar

b)   Perubahan komposisi :

 kadar air – berkurang karbohidrat - pati menjadi gula dan sebaliknya protein – terurai lemak - menjadi tengik vitamin dan mineral – hilang / berkurang timbul aroma / bau.

3.    Mengetahui jenis kerusakan yang dapat terjadi

a)    Kerusakan Fisik – Fisiologis

            Perubahan-perubahan terjadi karena proses fisiologi (hidup) yang terlihat sebagai perubahan fisiknya seperti perubahan warna, bentuk, ukuran, lunak, keras, alot, keriput, dll. Juga bisa terjadi timbul aroma, perubahan rasa, peningkatan zat-zat tertentu dalam hasil tanaman tersebut.

b)   Kerusakan Mekanis

Kerusakan disebabkan benturan, gesekan, tekanan, tusukan, baik antar hasil tanaman tersebut atau dengan benda lain. Kerusakan ini umumnya disebabkan tindakan manusia yang dengan sengaja atau tidak sengaja dilakukan.Atau karena kondisi hasil tanaman tersebut (permukaan tidak halus atau merata, berduri, bersisik, bentuk tidak beraturan, bobot tinggi, kulit tipis, dll.). Kerusakan mekanis (primer) sering diikuti dengan kerusakan biologis (sekunder).

c)    Kerusakan Biologis

Penyebab kerusakan biologis dari dalam tanaman : pengaruh etilen Penyebab kerusakan biologis dari luar : Hama dan penyakit.

4.    Melakukan penanganan yang baik, yaitu :

a)     Menggunakan teknologi yang baik dan menyesuaikan dengan tujuan penanganan.

b)   Hindari kerusakan apapun penyebabnya dalam penanganan pasca panen.Penanganan harus dilakukan dengan hati-hati dan mengikuti kaidah-kaidah yang ditentukan.

c)     Mempertimbangkan hubungan biaya dan pemanfaatan.

5.     Faktor yang berpengaruh pada kerusakan hasil tanaman :

a)    Faktor biologis : repirasi, transpirasi, pertumbuhan lanjut, produksi etilen, hamapenyakit

b)   Faktor lingkungan : Temperatur, kelembaban, komposisi udara, cahaya, angin, tanah/media.

C.  Manfaat Penanganan Pasca Panen

Manfaat atau keuntungan melakukan penanganan pasca panen yang baik:
1.    Dibanding dengan melakukan usaha  peningkatan produksi  melakukan penanganan  pasca panen yang baik mempunyai beberapa keuntungan antara lain:
a)    Jumlah pangan yang dapat dikonsumsi lebih banyak.
b)   Lebih murah melakukan penanganan pasca panen (misal dengan penangan yang hati-hati, pengemasan) dibanding peningkatan produksi  yang membu tuhkan input tambahan (misal pestisida, pupuk, dll).
c)    Risiko kegagalan  lebih kecil
Input yang diberikan pada peningkatan produksi bila gagal bisa berarti gagal panen.  Pada penanganan pasca panen, bila gagal umumnya tidak menambah “kehilangan”.
d)   Menghemat energi
Energi yang digunak an untuk memproduksi hasil yan g kemudian “hilang” dapat dihemat.
e)    Waktu yang diperlukan lebih singkat (pengaruh perlakuan  untuk peningkatan produksi baru terlihat 1  – 3 bulan kemudian, yaitu saat panen; pengaruh penanganan pasca panen dapat terlihat 1 – 7 hari setelah perlakuan).
2.    Meningkatkan nutrisi. Melakukan penanganan pasca panen yang baik dapat mencegah kehilangan nutrisi, berarti perbaikan nutrisi bagi masyarakat.
3.    Mengurangi  sampah,  terutama di kota –kota dan  ikut mengatasi masalah  pencemaran lingkungan.

D.  ManfaatPengolahan Pasca Panen

Manfaat atau fungsi yang bisa didapat dengan melakukan pengolahan pasca panen ini adalah sebagai berikut:
1. Memperpanjang waktu dan jumlah persediaan pangan
Bahan mentah yang diawetkan tentu dapat disimpan lama, oleh karena itu dapat menjadi cadangan bahan pangan untuk kedepannya jika terjadi kriris bahan pengan mentah. contohnya ikan asin.
2. Memudahkan penyimpanan dan distribusi
Semua bahan pangan yang diolah dapat dengan mudah disimpan dan dikirim ke daerah lain. Manfaatnya, bahan pangan kita tidak akan busuk sebelum sampai di tujuan. contohnya makanan kalengan.
3. meningkatkan nilai tambah ekonomis dan nilai tambah sosial
Bandingkan, lebih mahal mana ketika kamu membeli sayur di supermarket dengan pasar tradisional? tentu lebih mahal di supermarket, padahal sayurnya sama. Namun, dapat dilihat bahwa sayur disupermarket rata rata diberi sentuhan plastik warp dan diletakkan di lemari pendingin sehingga sayur akan terlihat segar, selain itu sayur syur tersebut juga dipisah berdasarkan ukuran maupun warna sehingga memudahkan pembeli. Di banyak pasar tradisional, hal itu tidak berlaku. Padahal, sedikit sentuhan dapat meningkatkan nilai jual yang begitu tinggi. contohnya pemberian kemasan pada produk. Selain itu, juga dapat menambah nilai sosial, yaitu ketersediaan lowongan pekerjaan.
4. Memperoleh produk hasil pertanian yang menarik dari segi tampilan, rasa, dan sifat fisik
5. Mengurangi tingkat kerugian
Hal ini jelas. Misalkan saja, tomat yang harganya jatuh dipasaran karena panen besar besaran dapat sangat merugaikan, tapi jika tomat tersebut diolah jadi saus tomat, maka tidak ada kata rugi. Oleh karena itu, kita juga harus dibekali ketrampilan mengolah bahan pangan ini.
6.    Tersedianya limbah yang mungkin masih dapat digunakan untuk memproduksi bahan lain.
Ada banyak sekali contohnya, salah satunya adalah limbah hasil pertanian dapat dijadikan pupuk kompos.
7. Mendorong tambahnya industri non pertanian yang menunjang industri pertanian dan industri lainnya
Dengan melakukan pengolahan pasca panen, kita membutuhkan alat yang tentunya banyak sekali alat tersebut bukan dari industri pertanian.
8. Mengurangi pencemaran lingkungan
Bahan pangan mentah yang diolah dengan benar, akan menekan porsi mubazir, oleh karena itu tidak banyak sampai yang akan dihasilkan.
9. Meningkatkan nilai gizi
Dengan adanya pengolahan pasca panen maka akan meningkatkan nilai gizi dari hasil pertanian tersebut. Sebagai contoh misalnya Susu yang diolah menjadi keju dan yogurt sudah berbeda nilai gizinya. Begitu pula kedelai yang diolah menjadi tempe.

E.  Tahap Penaganan Pasca Panen Hasil Pertanian

1.    Pemanenan

Untuk menentukan saat panen yang tepat diperlukan petunjuk untuk mengetahui waktu pemanenan komoditi hasil pertanian. Penentuan waktu panen hasil pertanian yang siap di panen dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu :

a)    Visual : melihat warna kulit, ukuran, masih adanya sisa tangkai putik, adanya dedaunan tua di bagian luar yang kering dan penuhnya buah.

b)        Fisik : mudahnya buah terlepas dari tangkai / adanya tanda merekah, ketegaran dan berat jenis.

c)      Analisis Kimia : mengukur kandungan zat padat, asam, perbanding zat padat dengan asam dan kandungan zat pati.

d)      Perhitungan jumlah hari setelah bunga mekar dalam hubungannya dengan tanggal berbunga dan unit panas.

e)      Metoda Fisiologis : pengukuran pola respirasi (perbandingan antara CO2 dan O2).

f)       Pada pemanenan hasil pertanian harus dilakukan secara hati - hati jangan sampai terjatuh, tergores, memar, dan sebagainya, karena luka yang disebabkan oleh hal tersebut akan menyebabkan terjadinya pembusukan akibat peningkatan laju respirasi.

Untuk menghidari kerusakan hasil pertanian pada saat pemanenan perlu diperhatikan hal - hal berikut :
a)    Jangan sampai hasil pertanian hasil panen terjatuh.
b)   Gunakan alat panen (gunting, pisau yang tajam.
c)    Wadah / Keranjang penampung hasil panen harus kuat, permukaan bagian dalamnya halus dan mudah dibersihkan.
2.    Pengumpulan
Lokasi pengumpulan/penampungan harus didekatkan dengan tempat pemanenan agar tidak terjadi penyusutan atau penurunan kualitas akibat pengangkutan dari dan ke tempat penampungan yang teralu lama/jauh. Perlakuan/tindakan penanganan dan spesifikasi wadah yang digunakan harus disesuaikan dengan sifat dan karakteristik komoditi yang ditangani.
3.    Sortasi
Hasil pertanian setelah dipanen perlu dilakukan sortasi dan pembersihan, dengan cara memisahkan hasil pertanian yang berkualitas kurang baik (cacat, luka, busuk dan bentuknya tidak normal) dari hasil pertanian yang berkualitas baik. Pada proses sortasi ini dapat sekaligus dilakukan proses pembersihan (membuang bagian  bagian yang tidak diperlukan). Pembersihan dapat dilakukan dengan pisau / parang.
Selama sortasi harus diusahakan agar terhindar dari kontak sinar matahari langsung karena akan menurunkan bobot / terjadi pelayuan dan meningkatkan aktivitas metabolisme yang dapat mempercepat proses pematangan / respirasi.
4.     Pembersihan / Pencucian
Pembersihan atau pencucian dimaksudkan untuk menghindari kerusakan yang tinggi pada hasil pertanian, sebaiknya segera dilakukan pencucian agar hasil pertanian terbebas dari kotoran, hama dan penyakit. Pencucian menggunakan air bersih yang mengalir untuk menghindari kontaminasi.
Pencucian dengan air juga berfungsi sebagai pre-cooling untuk mengatasi kelebihan panas yang dikeluarkan produk saat proses pemanenan. Pencucian hasil pertanian dapat menggunakan alat seperti sikat yang lunak.
Hasil pertanian yang telah dicuci selanjutnya ditiriskan agar terbebas dari sisa air yang mungkin masih melekat dan ditempatkan pada tempat tertentu. Untuk mempercepat penirisan dibantu dengan kipas angin.
5.    Grading
Penggolongan / pengkelasan (grading) dimaksudkan untuk mendapatkan hasil pertanian yang bermutu baik dan seragam dalam satu golongan / kelas yang sama sesuai standar mutu yang telah ditetapkan atau atas permintaan konsumen. Penggolongan / pengkelasan dilakukan berdasarkan berat, besar, bentuk / rupa, warna dan bebas dari penyakit dan cacat lainnya.
Grading dapat dilakukan di tempat panen / tempat pengumpulan. Untuk memudahkan pekerjaan penggolongan di tempat pengumpulan, sebaiknya menggunakan meja yang bertepi. Pada tempat tersebut dilengkapi pula dengan peralatan lainnya, misal timbangan, alat pencuci, alat penirisan / pengeringan, dll. Selama grading harus diusahakan terhindar dari kontak sinar matahari langsung karena akan menurunkan bobot / terjadi pelayuan dan meningkatkan aktivitas metabolisme yang dapat mempercepat proses pematangan / respirasi.
6.    Pengemasan
Pengemasan berfungsi untuk melindungi / mencegah komoditi dari kerusakan mekanis, menciptakan daya tarik bagi konsumen dan memberikan nilai tambah produk serta memperpanjang daya simpan produk, sehingga dalam pengemasan harus dilakukan dengan hati - hati agar tehindar dari suhu dan kelembaban yang ekstrim (terlalu tinggi / terlalu rendah), goncangan, getran, gesekan dan tekanan yang tinggi terhadap kemasan hasil pertanian tersebut.
Pertimbangan yang perlu diperhatikan dalam pengemasan adalah :
a)    Kemasan harus memberi perlindungan terhadap sifat mudah rusak dari hasil pertanian yang menyangkut ukuran, bentuk kontruksi dan bahan yang dipakai.
b)   Kemasan harus cocok dengan kondisi pengankutan dan harus dapat diterima oleh konsumen.
c)    Harga dan tipe / bentuk kemasan harus sesuai dengan nilai hasil pertanian yang dikemas. Di Indonesia pengemasan hasil pertanian pada umumnya menggunakan keranjang, karung, dus karton dan plastik.
7.    Penyimpanan dan Pendinginan
Penyimpanan dilakukan untuk mempertahankan daya simpan komoditi dan melindungi produk dari kerusakan serta terkait erat dengan kebijakan distribusi dan pemasaran seperti pengankutan, pengeringan, penjualan dan pengolahan. Ruang penyimpanan umumnya tidak mampu untuk mendinginkan hasil pertanian secara cepat, sehingga perlu dilakukan prapendinginan.
Tujuan prapendinginan untuk menghilangkan dengan cepat panas dari lapang sebelum penyimpanan / pengangkutan, terutama penting bagi hasil pertanian yang mudah rusak.
Prapendinginan dapat dilakukan berbagai cara yaitu :
a)    Pendinginan dengan udara (dingin) yang mengalir (air cooling).
b)   Pendinginan dengan air (hydro cooling) yaitu dengan merendam dalam air dingin mengalir atau dengan pencucian dengan air dingin.
c)     Pendinginan dengan cara kontak dengan es (ice cooling), yaitu dengan menaburkan hancuran es ke dalam tumpukan hasil pertanian atau dengan menaruh es di atas tumpukan peti kemas.
8.    Transportasi
Pengangkutan hasil pertanian menuntut penanganan yang cepat dan dapat dilakukan dengan tiga cara : pengangkutan melalui jalan darat (dipikul, sepeda, pedati, kendaraan bermotor, kereta api), pengangkutan melalui laut (perahu dan kapal laut) dan pengangkutan melalui udara (pesawat udara). Hasil pertanian akan tetap dalam kondisi prima, segar dan baik dikonsumsi oleh masyarakat bila penanganan pasca panen dilaksanakan secara baik, benar dan tepat tanpa harus melupakan peranan proses sebelum panen yang juga sangat mempengaruhi mutu produk yang dihasilkan.

F.   Pengolahan Pasca Panen Hasil Pertanian

Pengelolaan pasca panen yang tepat untuk dapat memberikan nilai tambah hasil produksi pertanian dan meningkatkan daya saing hasil pertanian yang pada gilirannya akan memberikan kesejahteraan pada para pelaku pertanian. Dimana  Karakteristik dari produk pertanian atau komoditas pertanian yaitu : Sifat hasil pertanian umumnya mudah rusak atau busuk,  Sentra produksi umumnya relatif jauh dari daerah pemasaran,  Konsumen menginginkan produk yang berkualitas,  Hasil pertanian adakalanya bersifat musiman, harga di tingkat petani relatif rendah sehingga belum memberikan nilai tambah bagi petani.
Kegiatan pengolahan pasca panen hasil pertanian meliputi beberapa kegiatan atau prinsip-prinsip pengawetan tersebut yaitu :
1.      Pemanasan
Pemanasan merupakan tindakan atu perlakuan terhadap komoditas pertanian dengan menggunakan suhu tinggi atau panas untuk mematikan bakteri atau kuman di dalam hasil pertanian maupun mempertankan umur simpan. Sebagian bakteri dalam bentuk vegetatifnya akan mati pada suhu 82-94°C, akan tetapi banyak spora bakteri yang masih tahan pada suhu air mendidih yaitu 100°C selama 30 menit. Untuk sterilisasi yaitu pada mikroba mati diperlukan suhu yang tinggi misalnya 121°C selama 15 menit atau lebih. Tergantung pada mutu dan jumlah substratnya. Hal tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan uap panas, misalnya dalam autoklaf atau rektor. Pemanasan tidak hanya bertujuan untuk membunuh mikrob atetapi juga ditujukan untuk membunuh mikroba penyebab penyakit (patogenik).
2.      Pendinginan
Pendinginan merupakan tindakan atu perlakuan terhadap komoditas pertanian dengan menggunakan suhu rendahatau dingin untuk mematikan bakteri atau kuman di dalam hasil pertanian maupun umur simpan. Mikroba psikofilik tumbuh sampai suhu 0°C atau dibawahnya. Pada suhu 10°C pertumbuhan mikroba tersebut terhambat. Jika air dalam makanan atu komoditas pertanian telah sempurna membeku maka mikroba tidak dapat berkembang biak, tetapi pada beberapa bahan pangan sebagian air belum membeku sampai suhu -9°C atau dibawahnya. Hal tersebut disebabkan adanya kandungan gula, garam, dan bahan-bahan lainnya yang menurunkan titik beku. Walupun suhu pendinginan dapat menghambat pertumbuhan bakteri tetapi pendinginan tidak dapat membunuh semua bakteri.
3.      Pengeringan
Mikroba pada keadaan normal mengandung air kira-kira 80 persen, air ini diperoleh dari tempat mereka tumbuh. Jika air dikeluarkan dari bahan pangan, maka dari dalam bakteri juga akan keluar dan bakteri tidak dapat berkembang biak. Pengeringan bahan pangan ditujukan untuk melawan kebusukan oleh mikroba, tetapi tidak dapat dilakukan untuk membunuh semua mikroba. Oleh karena itu bahan pangan kering biasanya tidak steril. Bakteri dapat tumbuh kembali apabila bahan pangan kering tersebut dibasahi oleh air kembali.
4.      Pengasapan
Pengasapan daging atau ikan terutama dijutukan untuk mengawetkan atau menambah cita rasa, selain itu pengasapan juga menambah oksidadi lemak di dalam bahan pangan tersebut. Pengasapan bianya menggunakan kayu keras yang mengandung bahan pengawet kimia yang berasal dari asap pembakaran selulosa dan lignin. Pengasapan bisanya dilakukan menggunakan suhu 57°C. Cara baru pengasapan dengan menambahkan asap buatan berupa larutan yang berisi komponen-komponen asap dalam makanan dengan cara dioles untuk menambah cita rasa tanpa proses pengasapan panas, dalam phal ini fungsi asap sebagai bahan pengawet sedikit sekali.
5.      Radiasi bahan-bahan kimia
Radiasi pengion yang digunakan untuk sterilisasi dan inaktifasi enzim jika dosisnya berlebihan dapat mengakibatkan perubahan-perubahan cita rasa, warna, tekstur dan dapat membahayakan kesehatan. Beberapa bahan kimia yang digunakan dan diizinkan dalam makanan yaitu seperti natrium benzoat, asam sorbet, kalium propionate dan lain-lain
Beberapa hambatan pengelolaan pasca panen, yaitu :
a)      Fasilitas penunjang atau infrastruktur di daerah umumnya masih minim.
b)      Umumnya belum tersedianya fasilitas pengolahan hasil pertanian
c)      Hambatan proses pemasaran hasil pertanian atau produk olahan hasil pertanian
d)     Keterbatasan sumber daya manusia dan pengetahuan mengenai pengelolaan pasca panen hasil pertanian
e)      Umumnya petani lebih terbiasa menjual dalam bentuk hasil pertanian belum dalam bentuk olahan hasil pertanian




III.             KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat diambil yaitu :
1. Penanganan pasca panen (postharvest) sering disebut juga sebagai pengolahan primer ( primary processing) merupakan istilah yang digunakan untuk semua perlakuan dari mulai panen sampai komoditas dapat dikonsumsi “segar” atau untuk persiapan pengolahan berikutnya
2. Pengolahan (secondary processing) merupakan tindakan yang mengubah hasil tanaman ke kondisi lain atau bentuk lain dengan tujuan dapat tahan lebih lama (pengawetan), mencegah  perubahan yang tidak dikehendaki atau untuk penggunaan lain, ke dalamnya termasuk pengolahan pangan dan pengolahan industri.
3.  Manfaat penangana pasca panen yaitu jumlah komoditas yang dipanen lebih nayauk, meningkakan nutrisi, mengurangi sampah dan lain lain.
4. Manfaat pengolahan pasca panen yaitu untuk menambah umur simpan atu ketahanan dari komoditas, meningkatkan cita rasa dari bahan bangan dan lain-lain..
5. Kegiatan penanganan pasca panen meliputi penanenan, pencucian, sortasi, grading, pengemasan, penyimpanan  dan transportasi.
6. Kegiatan pngolahan pasca panen meiputi pemanasan, pendinginan, pengasapan, pengerinagan dan radiasi bahan kimia.

DAFTAR PUSTAKA

Dwiguna, Adi, 2015. http://adidwiguna.blogspot.co.id/2015/02/pasca-panen-hasil-pertanian.html. Diakses tanggal tanggal 03 Desember 2017.

Karya tulis Ilmiah. 2014. http://karyatulisilmiah.com/laporan-teknik-pengolahan-hasil-pertanian/. Diakses tanggal tanggal 30 November 2017.

Maulz. 2014. https://maulzxxx.wordpress.com/2014/10/08/9-manfaat-melakukan-pengolahan-pasca-panen/. Diakses tanggal tanggal 30 November 2017.

Nur, Zulaika. 20016. http://nurzulaikahmakalapascapanen.blogspot.co.id/. Diakses tanggal 03 Desember 2017.

Pratama, Andra. 2013. https://andr4pratama.wordpress.com/2013/04/26/tujuan-penanganan-pasca-panen/.  Diakses tanggal tanggal 04 Desember 2017.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar