MAKALAH PENGANTAR ILMU PERTANIAN
“PENANGANAN PASCA PANEN DAN
PENGOLAHAN PASCA PANEN”

Oleh :
Kharis
Annur (1704010001)
Rutri
Wahidiana (1704010006)
Abdurrohman
(1704010008)
Galuh
Setya Aji (1704010010)
Risparanto
Setyo Nugroho (1704010025)
Rifky
Yusuf S. M. (1704010030)
Syiva
Fauzia Pandini (1704010034)
Anggar
Setiawan (1704010041)
Tony
Sugoro (1704010042)
Mely
Octaviana (1704010053)
Dandung
Alan Kusuma (1704010058)
Puput
Indah Tri Wahyudi (1704010063)
KEMENTRIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN
TINGGI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO
2017
DAFTAR
ISI
I. PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Kegiatan pasca panen bertujuan
mempertahankan mutu produk segar agar tetap prima sampai ke tangan konsumen,
menekan losses atau kehilangan karena
penyusutan dan kerusakan, memperpanjang daya simpan dan meningkatkan nilai
ekonomis hasil pertanian. Penanganan pasca panen dapat diartikan sebagai segala kegiatan atau
pelakuan penanganan produk atau komoditas pertanian setelah panen sampai
ketangan konsumen. Penanganan pasca panen ini biasanya komoditas masih
dalam bentuk bahan mentah atau disebut produk Primer, yang berarti produk hasil
pertanian masih berupa hasil panen tanpa merubah dalam bentuk lain.
Tidak hanya proses panen yang baik perlu diperhatian namun penanganan
pasca panen yang baik pun wajib untuk dilaksanakan. Dalam Peraturan Menteri
Pertanian Republik Indonesia Nomor 73/Permentan/OT.140/7/72013 prinsip dasar
penanganan pasca panen merupakan rangkaian kegiatan setelah panen yang
dilakukan dalam tahapan dan waktu sesingkat mungkin untuk menghantarkan produk
hortikultura dari lahan produksi ke tangan konsumen dalam keadaan segar dan
baik.
Kegiatan
penanganan pasca panen umumnya masih belum cukup baik dilakukan oleh petani, packing house (rumah kemasan) maupun
pedagang. Saat ini, kegiatan pasca panen di tingkat petani umumnya dilakukan
secara tradisional dengan alat yang sederhana. Oleh karena
itu, perbaikan sistem pengelolaan tanaman secara terpadu disertai pengembangan
teknologi pemanenan dan penanganan pasca panen merupakan salah satu unsur yang
diperlukan untuk mencapai mutu produk yang baik.
B. Rumusan
Masalah
1. Apakah
pengertian dari penanganan pasca panen dan pengolahan pasca panen ?
2. Prinsip
penanganan pasca panen ?
3. Apa
manfaat dari penanganan dan pengolahan pasca panen?
4. Bagaimanakah
kegiatan penanganan pasca panen dan pengolahan pasca panen hasil pertanian ?
C. Tujuan
1. Untuk
mengetahui pengertian dari penanganan pasca panen dan pengolahan pasca panen.
2. Untuk
mengetahui Prinsip penanganan pasca panen.
3. Untuk
mengetahui manfaat dari penanganan dan pengolahan pasca panen.
4. Untuk
mengetahui kegiatan penanganan pasca panen dan pengolahan pasca panen.
II.
PEMBAHASAN
A. Pengertian
penanganan pasca panen dan pengolahan
pasca panen.
Dalam bidang pertanian istilah pasca panen
diartikan sebagai berbagai tindakan atau perlakuan yang diberikan pada hasil
pertanian setelah panen sampai komoditas berada di tangan konsumen.
Istilah tersebut secara keilmuan lebih tepat disebut Pasca produksi
(Postproduction) yang dapat dibagi dalam dua bagian atau tahapan, yaitu pasca
panen (postharvest) dan pengolahan ( processing).
Penanganan pasca panen (postharvest) sering disebut
juga sebagai pengolahan primer ( primary processing) merupakan istilah
yang digunakan untuk semua perlakuan dari mulai panen sampai komoditas dapat
dikonsumsi “segar” atau untuk persiapan pengolahan berikutnya. Umumnya perlakuan
tersebut tidak mengubah bentuk penampilan atau penampakan, kedalamnya
termasuk berbagai aspek dari pemasaran dan distribusi.
Penanganan
pasca panen adalah kegiatan yang penting yang masuk dalam sapta usaha tani. Pentingnya
penanganan pasca panen berdampak pada harga jual komoditas. Apabila penanganan
pasca panennya tepat maka kualitas hasil terjaga dan harga komoditas tetap
mengikuti harga pasar. Sedangkan jika kualitas menurun maka harga komoditas
akan lebih rendah dari harga pasar.
Pengolahan (secondary processing) merupakan tindakan yang
mengubah hasil tanaman ke kondisi lain atau bentuk lain dengan tujuan dapat
tahan lebih lama (pengawetan), mencegah perubahan yang tidak dikehendaki
atau untuk penggunaan lain, ke dalamnya termasuk pengolahan pangan dan
pengolahan industri.
B. Prinsip
Penanganan Pasca Panen
Prinsip
dasar penanganan pasca panen yang baik adalah sebagai berikut :
1. Mengenali sifat biologis
hasil tanaman yang akan ditangani, yaitu :
a) Hasil pertanian yang
telah dipanen masih hidup, masih melakukan respirasi, dan transpirasi, sehingga
penanganan pasca panen yang dilakukan harus selalu memperhatikan hal ini.
b)
Sifat biologi setiap hasil pertanian berbeda,
perlakuan pasca panen yang tepat untuk tiap komoditas akan berbeda.
c) Bagian tanaman yang
dimanfaatkan juga berbeda-beda sifatnya (daun, batang, bunga, buah, akar).
d) Struktur dan komposisi
hasil tanaman dari tiap bagian tanaman berbeda.
2. Perubahan-perubahan yang
terjadi dari bagian tanaman setelah panen, yaitu :
a) Perubahan fisik /
morfologis :
Daun – menguning Bunga –
layu Batang – memanjang atau mengeras Buah matang – ranum, - “bonyok” Buah muda
– jagung manis – biji keriput mentimun – keriput atau menguning polong – alot,
menguning Umbi dan ubi – bertunas / berakar
b) Perubahan komposisi :
kadar air – berkurang karbohidrat - pati
menjadi gula dan sebaliknya protein – terurai lemak - menjadi tengik vitamin
dan mineral – hilang / berkurang timbul aroma / bau.
3. Mengetahui jenis
kerusakan yang dapat terjadi
a) Kerusakan Fisik –
Fisiologis
Perubahan-perubahan terjadi karena proses fisiologi (hidup) yang terlihat
sebagai perubahan fisiknya seperti perubahan warna, bentuk, ukuran, lunak,
keras, alot, keriput, dll. Juga bisa terjadi timbul aroma, perubahan rasa, peningkatan
zat-zat tertentu dalam hasil tanaman tersebut.
b) Kerusakan Mekanis
Kerusakan disebabkan
benturan, gesekan, tekanan, tusukan, baik antar hasil tanaman tersebut atau
dengan benda lain. Kerusakan ini umumnya disebabkan tindakan manusia yang
dengan sengaja atau tidak sengaja dilakukan.Atau karena kondisi hasil tanaman
tersebut (permukaan tidak halus atau merata, berduri, bersisik, bentuk tidak
beraturan, bobot tinggi, kulit tipis, dll.). Kerusakan mekanis (primer) sering
diikuti dengan kerusakan biologis (sekunder).
c) Kerusakan Biologis
Penyebab kerusakan
biologis dari dalam tanaman : pengaruh etilen Penyebab kerusakan biologis dari
luar : Hama dan penyakit.
4. Melakukan penanganan yang
baik, yaitu :
a)
Menggunakan teknologi
yang baik dan menyesuaikan dengan tujuan penanganan.
b) Hindari kerusakan apapun
penyebabnya dalam penanganan pasca panen.Penanganan harus dilakukan dengan
hati-hati dan mengikuti kaidah-kaidah yang ditentukan.
c) Mempertimbangkan hubungan biaya dan pemanfaatan.
5. Faktor yang berpengaruh pada kerusakan hasil
tanaman :
a) Faktor biologis : repirasi, transpirasi, pertumbuhan
lanjut, produksi etilen, hamapenyakit
b)
Faktor lingkungan :
Temperatur, kelembaban, komposisi udara, cahaya, angin, tanah/media.
C. Manfaat Penanganan
Pasca Panen
Manfaat atau keuntungan melakukan
penanganan pasca panen yang baik:
1. Dibanding dengan melakukan usaha peningkatan produksi melakukan penanganan pasca panen yang
baik mempunyai beberapa keuntungan antara lain:
a)
Jumlah pangan yang dapat dikonsumsi
lebih banyak.
b)
Lebih murah melakukan penanganan pasca
panen (misal dengan penangan yang hati-hati, pengemasan) dibanding peningkatan
produksi yang membu tuhkan input tambahan (misal pestisida, pupuk, dll).
c)
Risiko kegagalan lebih kecil
Input yang diberikan
pada peningkatan produksi bila gagal bisa berarti gagal panen. Pada
penanganan pasca panen, bila gagal umumnya tidak menambah “kehilangan”.
d)
Menghemat energi
Energi yang digunak an
untuk memproduksi hasil yan g kemudian “hilang” dapat dihemat.
e)
Waktu yang diperlukan lebih singkat
(pengaruh perlakuan untuk peningkatan produksi baru terlihat 1 – 3
bulan kemudian, yaitu saat panen; pengaruh penanganan pasca panen dapat
terlihat 1 – 7 hari setelah perlakuan).
2.
Meningkatkan nutrisi. Melakukan penanganan
pasca panen yang baik dapat mencegah kehilangan nutrisi, berarti perbaikan
nutrisi bagi masyarakat.
3.
Mengurangi sampah, terutama
di kota –kota dan ikut mengatasi masalah pencemaran lingkungan.
D. ManfaatPengolahan
Pasca Panen
Manfaat atau fungsi yang bisa
didapat dengan melakukan pengolahan pasca panen ini adalah sebagai berikut:
1. Memperpanjang waktu dan jumlah persediaan pangan
Bahan mentah yang diawetkan tentu dapat disimpan lama,
oleh karena itu dapat menjadi cadangan bahan pangan untuk kedepannya jika
terjadi kriris bahan pengan mentah. contohnya ikan asin.
2. Memudahkan penyimpanan dan distribusi
Semua bahan pangan yang diolah dapat dengan mudah
disimpan dan dikirim ke daerah lain. Manfaatnya, bahan pangan kita tidak akan
busuk sebelum sampai di tujuan. contohnya makanan kalengan.
3. meningkatkan nilai tambah ekonomis dan nilai tambah sosial
Bandingkan, lebih mahal mana ketika kamu membeli sayur
di supermarket dengan pasar tradisional? tentu lebih mahal di supermarket,
padahal sayurnya sama. Namun, dapat dilihat bahwa sayur disupermarket rata rata
diberi sentuhan plastik warp dan diletakkan di lemari pendingin sehingga sayur
akan terlihat segar, selain itu sayur syur tersebut juga dipisah berdasarkan
ukuran maupun warna sehingga memudahkan pembeli. Di banyak pasar tradisional,
hal itu tidak berlaku. Padahal, sedikit sentuhan dapat meningkatkan nilai jual
yang begitu tinggi. contohnya pemberian kemasan pada produk. Selain itu, juga
dapat menambah nilai sosial, yaitu ketersediaan lowongan pekerjaan.
4. Memperoleh produk hasil pertanian yang menarik
dari segi tampilan, rasa, dan sifat fisik
5. Mengurangi tingkat kerugian
Hal ini jelas. Misalkan saja, tomat yang harganya jatuh
dipasaran karena panen besar besaran dapat sangat merugaikan, tapi jika tomat tersebut
diolah jadi saus tomat, maka tidak ada kata rugi. Oleh karena itu, kita juga
harus dibekali ketrampilan mengolah bahan pangan ini.
6.
Tersedianya limbah yang
mungkin masih dapat digunakan untuk memproduksi bahan lain.
Ada banyak sekali contohnya, salah satunya adalah limbah
hasil pertanian dapat dijadikan pupuk kompos.
7. Mendorong tambahnya industri non pertanian
yang menunjang industri pertanian dan industri lainnya
Dengan melakukan pengolahan pasca panen, kita
membutuhkan alat yang tentunya banyak sekali alat tersebut bukan dari industri
pertanian.
8. Mengurangi pencemaran lingkungan
Bahan pangan mentah yang diolah dengan benar, akan
menekan porsi mubazir, oleh karena itu tidak banyak sampai yang akan
dihasilkan.
9. Meningkatkan nilai gizi
Dengan adanya pengolahan pasca panen
maka akan meningkatkan nilai gizi dari hasil pertanian tersebut. Sebagai contoh
misalnya Susu yang diolah menjadi keju dan yogurt sudah
berbeda nilai gizinya. Begitu pula kedelai yang diolah menjadi tempe.
E. Tahap
Penaganan Pasca Panen Hasil Pertanian
1.
Pemanenan
Untuk menentukan saat panen yang
tepat diperlukan petunjuk untuk mengetahui waktu pemanenan komoditi hasil
pertanian. Penentuan waktu panen hasil pertanian yang siap di panen dapat
dilakukan dengan berbagai cara, yaitu :
a)
Visual : melihat warna kulit,
ukuran, masih adanya sisa tangkai putik, adanya dedaunan tua di bagian luar
yang kering dan penuhnya buah.
b)
Fisik : mudahnya
buah terlepas dari tangkai / adanya tanda merekah, ketegaran dan berat jenis.
c)
Analisis Kimia : mengukur
kandungan zat padat, asam, perbanding zat padat dengan asam dan kandungan zat
pati.
d)
Perhitungan jumlah hari
setelah bunga mekar dalam hubungannya dengan tanggal berbunga dan unit panas.
e)
Metoda Fisiologis : pengukuran
pola respirasi (perbandingan antara CO2 dan O2).
f)
Pada pemanenan hasil pertanian
harus dilakukan secara hati - hati jangan sampai terjatuh, tergores, memar, dan
sebagainya, karena luka yang disebabkan oleh hal tersebut akan menyebabkan
terjadinya pembusukan akibat peningkatan laju respirasi.
Untuk menghidari
kerusakan hasil pertanian pada saat pemanenan perlu diperhatikan hal - hal
berikut :
a)
Jangan
sampai hasil pertanian hasil panen terjatuh.
b)
Gunakan
alat panen (gunting, pisau yang tajam.
c)
Wadah
/ Keranjang penampung hasil panen harus kuat, permukaan bagian dalamnya halus
dan mudah dibersihkan.
2.
Pengumpulan
Lokasi pengumpulan/penampungan harus didekatkan dengan
tempat pemanenan agar tidak terjadi penyusutan atau penurunan kualitas akibat
pengangkutan dari dan ke tempat penampungan yang teralu lama/jauh. Perlakuan/tindakan penanganan dan
spesifikasi wadah yang digunakan harus disesuaikan dengan sifat dan
karakteristik komoditi yang ditangani.
3.
Sortasi
Hasil pertanian setelah dipanen perlu dilakukan
sortasi dan pembersihan, dengan cara memisahkan hasil pertanian yang
berkualitas kurang baik (cacat, luka, busuk dan bentuknya tidak normal) dari
hasil pertanian yang berkualitas baik. Pada proses sortasi ini dapat sekaligus
dilakukan proses pembersihan (membuang bagian bagian yang tidak diperlukan).
Pembersihan dapat dilakukan dengan pisau / parang.
Selama
sortasi harus diusahakan agar terhindar dari kontak sinar matahari langsung
karena akan menurunkan bobot / terjadi pelayuan dan meningkatkan aktivitas
metabolisme yang dapat mempercepat proses pematangan / respirasi.
4.
Pembersihan / Pencucian
Pembersihan atau
pencucian dimaksudkan untuk menghindari
kerusakan yang tinggi pada hasil pertanian, sebaiknya segera dilakukan
pencucian agar hasil pertanian terbebas dari kotoran, hama dan penyakit.
Pencucian menggunakan air bersih yang mengalir untuk menghindari kontaminasi.
Pencucian dengan air juga berfungsi sebagai pre-cooling untuk
mengatasi kelebihan panas yang dikeluarkan produk saat proses pemanenan. Pencucian hasil pertanian dapat menggunakan alat seperti
sikat yang lunak.
Hasil
pertanian yang telah dicuci selanjutnya ditiriskan agar terbebas dari sisa air
yang mungkin masih melekat dan ditempatkan pada tempat tertentu. Untuk
mempercepat penirisan dibantu dengan kipas angin.
5.
Grading
Penggolongan / pengkelasan (grading)
dimaksudkan untuk mendapatkan hasil pertanian yang bermutu baik dan seragam
dalam satu golongan / kelas yang sama sesuai standar mutu yang telah ditetapkan
atau atas permintaan konsumen. Penggolongan / pengkelasan dilakukan berdasarkan
berat, besar, bentuk / rupa, warna dan bebas dari penyakit dan cacat lainnya.
Grading dapat
dilakukan di tempat panen / tempat pengumpulan. Untuk memudahkan pekerjaan
penggolongan di tempat pengumpulan, sebaiknya menggunakan meja yang bertepi.
Pada tempat tersebut dilengkapi pula dengan peralatan lainnya, misal timbangan,
alat pencuci, alat penirisan / pengeringan, dll. Selama grading harus
diusahakan terhindar dari kontak sinar matahari langsung karena akan menurunkan
bobot / terjadi pelayuan dan meningkatkan aktivitas metabolisme yang dapat
mempercepat proses pematangan / respirasi.
6.
Pengemasan
Pengemasan berfungsi untuk melindungi / mencegah
komoditi dari kerusakan mekanis, menciptakan daya tarik bagi konsumen dan
memberikan nilai tambah produk serta memperpanjang daya simpan produk, sehingga
dalam pengemasan harus dilakukan dengan hati - hati agar tehindar dari suhu dan
kelembaban yang ekstrim (terlalu tinggi / terlalu rendah), goncangan, getran,
gesekan dan tekanan yang tinggi terhadap kemasan hasil pertanian tersebut.
Pertimbangan yang perlu diperhatikan dalam pengemasan
adalah :
a)
Kemasan
harus memberi perlindungan terhadap sifat mudah rusak dari hasil pertanian yang
menyangkut ukuran, bentuk kontruksi dan bahan yang dipakai.
b)
Kemasan
harus cocok dengan kondisi pengankutan dan harus dapat diterima oleh konsumen.
c)
Harga
dan tipe / bentuk kemasan harus sesuai dengan nilai hasil pertanian yang
dikemas. Di Indonesia pengemasan hasil pertanian pada umumnya menggunakan
keranjang, karung, dus karton dan plastik.
7.
Penyimpanan dan Pendinginan
Penyimpanan
dilakukan untuk mempertahankan daya simpan komoditi dan melindungi produk dari
kerusakan serta terkait erat dengan kebijakan distribusi dan pemasaran seperti
pengankutan, pengeringan, penjualan dan pengolahan. Ruang penyimpanan umumnya
tidak mampu untuk mendinginkan hasil pertanian secara cepat, sehingga perlu
dilakukan prapendinginan.
Tujuan
prapendinginan untuk menghilangkan dengan cepat panas dari lapang sebelum
penyimpanan / pengangkutan, terutama penting bagi hasil pertanian yang mudah
rusak.
Prapendinginan dapat dilakukan berbagai cara yaitu :
a)
Pendinginan
dengan udara (dingin) yang mengalir (air cooling).
b)
Pendinginan dengan air (hydro cooling) yaitu dengan merendam dalam
air dingin mengalir atau dengan pencucian dengan air dingin.
c)
Pendinginan
dengan cara kontak dengan es (ice cooling), yaitu dengan menaburkan
hancuran es ke dalam tumpukan hasil pertanian atau dengan menaruh es di atas
tumpukan peti kemas.
8.
Transportasi
Pengangkutan hasil pertanian menuntut penanganan yang
cepat dan dapat dilakukan dengan tiga cara : pengangkutan melalui jalan darat
(dipikul, sepeda, pedati, kendaraan bermotor, kereta api), pengangkutan melalui
laut (perahu dan kapal laut) dan pengangkutan melalui udara (pesawat udara). Hasil pertanian akan tetap dalam
kondisi prima, segar dan baik dikonsumsi oleh masyarakat bila penanganan pasca
panen dilaksanakan secara baik, benar dan tepat tanpa harus melupakan peranan
proses sebelum panen yang juga sangat mempengaruhi mutu produk yang dihasilkan.
F.
Pengolahan Pasca Panen Hasil
Pertanian
Pengelolaan pasca panen yang tepat untuk dapat
memberikan nilai tambah hasil produksi pertanian dan meningkatkan daya saing
hasil pertanian yang pada gilirannya akan memberikan kesejahteraan pada para
pelaku pertanian. Dimana Karakteristik
dari produk pertanian atau komoditas pertanian yaitu : Sifat hasil pertanian
umumnya mudah rusak atau busuk, Sentra produksi umumnya relatif jauh dari
daerah pemasaran, Konsumen menginginkan produk yang
berkualitas, Hasil pertanian adakalanya bersifat musiman, harga di
tingkat petani relatif rendah sehingga belum memberikan nilai tambah bagi
petani.
Kegiatan pengolahan pasca
panen hasil pertanian meliputi beberapa kegiatan atau prinsip-prinsip
pengawetan tersebut yaitu :
1.
Pemanasan
Pemanasan merupakan tindakan atu perlakuan terhadap
komoditas pertanian dengan menggunakan suhu tinggi atau panas untuk mematikan
bakteri atau kuman di dalam hasil pertanian maupun mempertankan umur simpan.
Sebagian bakteri dalam bentuk vegetatifnya akan mati pada suhu 82-94°C, akan
tetapi banyak spora bakteri yang masih tahan pada suhu air mendidih yaitu 100°C
selama 30 menit. Untuk sterilisasi yaitu pada mikroba mati diperlukan suhu yang
tinggi misalnya 121°C selama 15 menit atau lebih. Tergantung pada mutu dan jumlah
substratnya. Hal tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan uap panas,
misalnya dalam autoklaf atau rektor. Pemanasan tidak hanya bertujuan untuk
membunuh mikrob atetapi juga ditujukan untuk membunuh mikroba penyebab penyakit
(patogenik).
2.
Pendinginan
Pendinginan merupakan tindakan atu perlakuan terhadap
komoditas pertanian dengan menggunakan suhu rendahatau dingin untuk mematikan
bakteri atau kuman di dalam hasil pertanian maupun umur simpan. Mikroba
psikofilik tumbuh sampai suhu 0°C atau dibawahnya. Pada suhu 10°C pertumbuhan
mikroba tersebut terhambat. Jika air dalam makanan atu komoditas pertanian
telah sempurna membeku maka mikroba tidak dapat berkembang biak, tetapi pada
beberapa bahan pangan sebagian air belum membeku sampai suhu -9°C atau dibawahnya.
Hal tersebut disebabkan adanya kandungan gula, garam, dan bahan-bahan lainnya
yang menurunkan titik beku. Walupun suhu
pendinginan dapat menghambat pertumbuhan bakteri tetapi pendinginan tidak dapat
membunuh semua bakteri.
3.
Pengeringan
Mikroba pada keadaan normal mengandung air kira-kira
80 persen, air ini diperoleh dari tempat mereka tumbuh. Jika air dikeluarkan
dari bahan pangan, maka dari dalam bakteri juga akan keluar dan bakteri tidak
dapat berkembang biak. Pengeringan bahan pangan ditujukan untuk melawan
kebusukan oleh mikroba, tetapi tidak dapat dilakukan untuk membunuh semua
mikroba. Oleh karena itu bahan pangan kering biasanya tidak steril. Bakteri
dapat tumbuh kembali apabila bahan pangan kering tersebut dibasahi oleh air
kembali.
4.
Pengasapan
Pengasapan daging atau ikan terutama dijutukan untuk
mengawetkan atau menambah cita rasa, selain itu pengasapan juga menambah
oksidadi lemak di dalam bahan pangan tersebut. Pengasapan bianya menggunakan
kayu keras yang mengandung bahan pengawet kimia yang berasal dari asap
pembakaran selulosa dan lignin. Pengasapan bisanya dilakukan menggunakan suhu
57°C. Cara baru pengasapan dengan menambahkan asap buatan berupa larutan yang
berisi komponen-komponen asap dalam makanan dengan cara dioles untuk menambah
cita rasa tanpa proses pengasapan panas, dalam phal ini fungsi asap sebagai
bahan pengawet sedikit sekali.
5.
Radiasi
bahan-bahan kimia
Radiasi pengion yang digunakan untuk sterilisasi dan
inaktifasi enzim jika dosisnya berlebihan dapat mengakibatkan
perubahan-perubahan cita rasa, warna, tekstur dan dapat membahayakan kesehatan.
Beberapa bahan kimia yang digunakan dan diizinkan dalam makanan yaitu seperti
natrium benzoat, asam sorbet, kalium propionate dan lain-lain
Beberapa hambatan pengelolaan pasca panen, yaitu :
a) Fasilitas
penunjang atau infrastruktur di daerah umumnya masih minim.
b) Umumnya
belum tersedianya fasilitas pengolahan hasil pertanian
c) Hambatan
proses pemasaran hasil pertanian atau produk olahan hasil pertanian
d) Keterbatasan
sumber daya manusia dan pengetahuan mengenai pengelolaan pasca panen hasil
pertanian
e) Umumnya
petani lebih terbiasa menjual dalam bentuk hasil pertanian belum dalam bentuk
olahan hasil pertanian
III.
KESIMPULAN
Kesimpulan
yang dapat diambil yaitu :
1. Penanganan pasca panen
(postharvest) sering disebut juga sebagai pengolahan primer ( primary
processing) merupakan istilah yang digunakan untuk semua perlakuan dari mulai
panen sampai komoditas dapat dikonsumsi “segar” atau untuk persiapan pengolahan
berikutnya
2. Pengolahan (secondary processing) merupakan tindakan yang
mengubah hasil tanaman ke kondisi lain atau bentuk lain dengan tujuan dapat
tahan lebih lama (pengawetan), mencegah perubahan yang tidak dikehendaki
atau untuk penggunaan lain, ke dalamnya termasuk pengolahan pangan dan
pengolahan industri.
3. Manfaat penangana pasca panen yaitu jumlah
komoditas yang dipanen lebih nayauk, meningkakan nutrisi, mengurangi sampah dan
lain lain.
4. Manfaat pengolahan pasca panen
yaitu untuk menambah umur simpan atu ketahanan dari komoditas, meningkatkan
cita rasa dari bahan bangan dan lain-lain..
5. Kegiatan penanganan pasca panen meliputi penanenan, pencucian, sortasi,
grading, pengemasan, penyimpanan dan
transportasi.
6. Kegiatan pngolahan pasca panen meiputi pemanasan, pendinginan,
pengasapan, pengerinagan dan radiasi bahan kimia.
DAFTAR
PUSTAKA
Dwiguna, Adi,
2015. http://adidwiguna.blogspot.co.id/2015/02/pasca-panen-hasil-pertanian.html. Diakses
tanggal tanggal 03 Desember 2017.
Karya tulis
Ilmiah. 2014. http://karyatulisilmiah.com/laporan-teknik-pengolahan-hasil-pertanian/. Diakses tanggal
tanggal 30 November 2017.
Maulz. 2014. https://maulzxxx.wordpress.com/2014/10/08/9-manfaat-melakukan-pengolahan-pasca-panen/. Diakses
tanggal tanggal 30 November 2017.
Nur, Zulaika.
20016. http://nurzulaikahmakalapascapanen.blogspot.co.id/. Diakses
tanggal 03 Desember 2017.
Pratama, Andra.
2013. https://andr4pratama.wordpress.com/2013/04/26/tujuan-penanganan-pasca-panen/. Diakses tanggal tanggal 04 Desember 2017.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar